hutang lunas dengan sedekah

Meluruskan Keyakinan Hutang Lunas dengan Sedekah

Umat Islam diperintahkan mengutamakan kewajiban sebelum mengerjakan anjuran. Apakah itu kewajiban berkenaan dengan hak Allah dan juga kewajiban dengan hak makhluk.

Itu juga berlaku untuk membayar hutang dengan sedekah. Membayar hutang adalah kewajiban, sementara sedekah adalah anjuran. Sebagian orang ada yang meyakini jika hutang lunas dengan sedekah, benarkah?

Mendahulukan Kewajiban dari Anjuran

Hutang berkenaan dengan kewajiban penerima hutang kepada pemberi hutang yang harus dipenuhi. Sedangkan sedekah hanya anjuran. Sebab itulah, Nabi SAW mengajarkan supaya umat Islam mengeluarkan sedekah sesudah mencukupi kebutuhan pribadinya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim : dari Abu Hurairah r.a., Nabi SAW bersabda, “Sedekah terbaik yaitu sedekah sesudah kebutuhan pokok dicukupi.

Dan awali dari orang yang harus kamu nafkahi.” Karena dasar tersebut, ulama pun mengeluarkan fatwa supaya mengutamakan pembayaran hutang dibanding memberi sedekah. Seseorang yang mengutamakan sedekah sedangkan hutangnya belum terbayar, dapat dikategorikan mencuri harta orang lain.

Baca juga jasa penagihan hutang dari pengacaraindonesia.com

Imam Bukhari menyatakan, “Siapa memberi sedekah sedangkan ia butuh, keluarganya butuh atau ia masih berhutang, maka hutangnya itu lebih pantas ia lunasi sebelum bersedekah, memerdekakan budak, atau memberikan hibah. Maka sedekah itu tertolak untuknya.

Dan ia dilarang menghilangkan harta orang lain.” Itu sesuai dengan hadis Nabi SAW : “Siapa yang membawa harta orang lain (secara sah, seperti hutang) dan dia berniat untuk tidak mengembalikannya pasti Allah akan menghilangkannya.”

Karena keyakinan bahwa hutang lunas dengan sedekah bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka berharap mendapat rejeki tak terduga dengan mengeluarkan sedekah meski masih memiliki hutang kepada orang lain.

Dalam sebuah hadis dari Bukhari pun dijelaskan bahwa tidak boleh menyia-nyiakan harta orang lain dengan alasan sedekah. Sebab syarat sedekah yaitu ia tidak tergolong orang yang membutuhkan, keluarganya tak membutuhkan dan tak punya hutang. Wajib mendahulukan kewajiban sebelum mengerjakan yang sifatnya anjuran.

Ketentuan tadi berlaku tatkala hutang itu mesti segera dibayarkan. Namun saat jatuh tempo hutang masih lama dan kondisi penerima hutang pun mampu membayar maka ia diperbolehkan memberi sedekah, padahal ia punya hutang.

Dengan mengerti kaidah fikih prioritas tentu akan menuntun umat Islam dapat bertindak berdasarkan urutan amalan paling mendesak. Itu sama sekali tak mengajarkan agar umat Islam kikir namun membayar hutang lebih dulu adalah menunaikan hak orang lain yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab penerima hutang.

Bila jumlah hutang setara dengan jumlah seluruh kekayaan penerima hutang, tentu tidak rasional bila ia mengeluarkan sedekah. Sebab sedekah hanya dihukumi sunnah atau anjuran dan bukan sebuah kewajiban.

Sedangkan membayar hutang yang menjadi tanggungan dihukumi wajib, artinya berdosa jika ditinggalkan. Tentu sebaiknya mengawali dari hal wajib lalu yang sunnah dalam hal ini sedekah.

Ancaman Allah kepada orang yang tak mau bayar hutang

Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis shahih : Dari Ibnu ‘Umar, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang itu akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) sebab di sana (di akhirat) tak ada lagi dinar dan dirham.”

Riwayat lain dari Ibnu Majah : Dari Shuhaib Al Khoir, Nabi SAW bersabda, “Siapa saja yang berhutang kemudian berniat tak mau melunasinya, tentu ia akan bertemu Allah (di hari kiamat) dengan status sebagai pencuri.

Imam Tirmidzi pun meriwayatkan hadis tentang hutang yaitu : Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.”

Leave a Comment